Tampilkan postingan dengan label Suku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Juni 2014

Sebagai Penunjuk Umur, Suku Ini Memanjangkan Telinga

Suku Dayak (Foto: inibangsaku.com)


Tradisi memanjangkan cuping telinga menjadi salah satu keunikan budaya di Kalimantan. Meski sebenarnya tidak semua suku melakukannya, tapi budaya ini sudah terlanjur melekat dengan masyarakat dayak secara umum. Namun sayangnya dari waktu ke waktu, tradisi ini semakin menghilang, dan saat ini hanya tinggal sedikit orang Dayak yang masih memiliki cuping telinga panjang, itu pun umumnya generasi tua.


Salah satunya di Kampung Bena Baru yang dihuni sekitar 700 jiwa penduduk. Kampung Bena Baru adalah salah satu kampung pedalaman suku Dayak Kenyah yang berada di Sungai Kelay, Kecamatan Sambaliung. Kehidupan masyarakat di tempat ini masih berjalan berdampingan dengan tradisi dan kultur lokal, lengkap dengan upacara adat dan tari-tarian khasnya. Sebagian peralatan kerja dan rumah tangga merupakan hasil buatan tangan sendiri. Tapi bukan berarti penduduk kampung ini merasa asing terhadap perkembangan teknologi seperti televisi, telepon seluler, dan alat-alat elektronik lainnya. Kampung yang baru dibuka pada tahun 1980-an ini memiliki sekitar 20 orang nenek yang memiliki telinga cuping panjang. 


Daun telinga cuping panjang tidak hanya diperuntukkan bagi wanita, tetapi juga untuk laki-laki. Proses pemanjangan cuping telinga mulai dilakukan sejak bayi. Hal ini umumnya dikaitkan dengan tingkatan sosial seseorang dalam masyarakat Dayak. Bagi suku Dayak Kayan, misalnya, telinga cuping panjang menunjukkan kalau orang tersebut berasal dari kalangan bangsawan. Sementara bagi perempuan, telinga cuping panjang menunjukkan apakah dia seorang bangsawan atau budak karena kalah perang atau tidak mampu membayar utang.


Di kalangan masyarakat Dayak Kayan, pemanjangan cuping daun telinga ini biasanya menggunakan pemberat berupa logam berbentuk lingkaran gelang atau berbentuk gasing ukuran kecil. Dengan pemberat ini daun telinga akan terus memanjang hingga beberapa sentimeter.


Di desa-desa yang berada di hulu Sungai Mahakam, telinga cuping panjang digunakan sebagai identitas yang menunjukkan umur seseorang. Begitu bayi lahir, ujung telinganya diberi manik-manik yang cukup berat. Jumlah manik-manik yang menempel di telinganya akan bertambah satu untuk setiap tahun.


Tetapi ada juga anggapan yang mengatakan kalau tujuan pembuatan telinga panjang bukanlah untuk menunjukkan status kebangsawanan, tetapi justru untuk melatih kesabaran. Jika dipakai setiap hari, kesabaran dan kesanggupan menahan derita semakin kuat.


Sementara bagi suku Dayak Kenyah, antara laki-laki dan perempuan memiliki aturan panjang cuping telinga yang berbeda. Kaum laki-laki tidak boleh memanjangkan cuping telinganya sampai melebihi bahunya, sedangkan perempuan boleh memanjangkannya hingga sebatas dada. Proses memanjangkan cuping daun telinga ini diawali dengan penindikan daun telinga sejak masih berumur satu tahun. Setiap tahun, satu buah anting atau subang perak digantungkan di telinga mereka. Gaya anting atau subang perak yang digunakan pun berbeda-beda, yang akan menunjukkan perbedaan status dan jenis kelamin. Gaya anting kaum bangsawan tidak boleh dipakai oleh orang-orang biasa

Senin, 26 Mei 2014

Suku Kubu, Suku Mistik Yang Ditakuti

Suku Kubu (Foto: wicaksana)

Ilmu Ghaib, sensitif, dan misterius. kata-kata itulah yang tergambar dalam benak saya ketika mendengar kata suku kubu yang hidup berpindah-pindah ini. Sebagai anak melayu, saya selalu diceritakan oleh ayah bahwa suku kubu adalah suku yang mudah marah, dan mempunyai ilmu ghaib.

"Jangan meludah di adapan suku kubu kalu dendak milu die." begitulah kata ayah yang memperingatkan aku supaya jangan pernah berludah di depan suku kubu. Karena bila mereka tersinggung, konon katanya mereka akan bersumpah bahwa kita akan menjadi bagian dari mereka. Jika itu terjadi, maka kita akan mengikuti mereka kemanapun mereka pergi. 

Besar di daerah pedalaman sumatera membuat saya tidak asing dengan suku kubu ini. Pernah beberapa kali ada beberapa kelompok suku kubu ini menetap beberapa minggu di hutan ujung desa saya. Mereka biasanya membuat rumah sementara mereka dengan terpal atau dengan ranting dedaunan di tepi sungai atau danau dekat hutan. Hal ini memudahkan mereka  mendapatkan air dan mencari bahan makanan.

Dikalangan orang melayu, Suku Kubu cukup ditakuti. selain mudah marah, mereka juga ditakuti karena ilmu ghaibnya. Suku kubu biasanya mempunyai ilmu-ilmu ghaib seperti ilmu pemikat (pelet), ilmu Bulek Kolo (apa yang diucapkan terjadi), ilmu terawangan, ilmu pelaris, ilmu roh jolong (merega sukma), dan ilmu penarik rizeki. 

Di Indonesia, Suku Kubu atau yang juga disebut  Suku Anak Dalam ini terdapat di daerah Jambi dan Sumatera Selatan. Suku Anak Dalam belum terlalu dikenal oleh masyarakat Indonesia karena Suku Anak Dalam sudah sangat langka dan mereka tinggal di tempat-tempat terpencil yang jauh dari jangkauan orang-orang.

\
Rumah Orang Kubu (Foto: uvic)

Suku Anak Dalam disebut juga Suku Kubu atau Orang Rimba. Menurut tradisi lisan suku Anak Dalam merupakan orang Malau sesat yang lari ke hutan rimba disekitar Air Hitam, Taman Nasional Bukit Dua puluh. Mereka kemudian dinamakan Moyang Segayo. Sistem kemasyarakatan mereka, hidup mereka secara nomaden atau tidak menetap dan mendasarkan hidupnya pada berburu dan meramu, walaupun diantara mereka sudah banyak yang telah memiliki lahan karet ataupun pertanian lanilla.

Anaka-anak Suku Kubu (Foto: indonesia media)

Sistem kepercayaan mereka adalah Polytheisme yaitu mereka mempercayai banyak dewa. Dan mereka mengenal dewa mereka dengan sebutan Dewo dan Dewa. Ada dewa yang baik adapula dewa yang jahat. Selain kepercayaan terhadap dewa mereka juga percaya adanya roh nenek moyang yang selalu ada disekitar mereka.

Pemerintah telah berupaya memberikan pendidikan kepada suku kubu agar mereka dapat mengikuti perkembangan zaman. Pemerintah juga mendirikan perkampungan trans bagi suku kubu agar mereka mulai hidup menetap dan tidak berpindah-pindah lagi. Suku Kubu juga Sangat antusias terhadap pendidikan. Khususnya suku kubu dari wilayah sumatera selatan. Mereka sangat bersemangat mengikuti belajar di sekolah. Tak hanya anak-anak saja yang bersekolah akan tetapi juga orang dewasa pun mengikutinya. Mereka berpikir bahwa dengan bersekolah mereka akan pintar dan tak mudah untuk dibodohi oleh orang luar. Walaupun masih ada sebagian kelompok yang masih hidup berpindah-pindah, namun mereka sudah memakai baju layaknya orang biasa.

Namun upaya pemerintah tersebut kurang berjalan mulus di provinsi Jambi. Suku kubu Jambi merupakan suku yang memegang erat budaya mereka. mereka tidak dengan mudah menerima budaya luar. Jika kita melihat pola kehidupan dan penghidupan mereka, hal ini disebabkan oleh keterikatan adat istiadat yang begitu kuat. Hidup berkelompok yang berpindah-pindah dengan pakaian hanya sebagian menutupi badan dengan kata lain mereka sangat tergantung dengan hasil hutan / alam dan binatang buruan.

Sumber : dari berbagai sumber

Tato Mentawai, Seni Rajah Tertua di Dunia

Tato Mentawai (Foto: kaskus)

Bagi suku Mentawai, tato atau rajah merupakan bentuk ekspresi seni dan juga perlambang status sosial dalam masyarakat. Selain itu, tato dapat pula dianggap sebagai pakaian abadi yang akan dibawa mati. Disebut pakaian sebab tato khas Mentawai di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat memang biasanya memenuhi sekujur tubuh, mulai dari kepala hingga ke kaki. Bahkan konon orang Mentawai menato tubuh mereka agar kelak setelah meninggal, mereka dapat saling mengenali leluhur mereka.  


Seperti halnya seni tato tradisional lainnya, proses pembuatan tato Mentawai dilakukan dengan alat tradisional, motif tertentu yang tidak mengalami banyak perkembangan sebab memang sudah menjadi simbol khusus atau identitas budaya. Tubuh yang akan ditato terlebih dulu digambari motif menggunakan lidi. Motif garis-garis yang merupakan motif khas tato Mentawai tidak sembarang ditorehkan melainkan mengikuti rumusan jarak tertentu. Biasanya sistem pengaturan jarak ini memanfaatkan jari, misal satu jari, dua, atau seterusnya. 

digambar kemudian ditusuk dengan jarum bertangkai kayu. Jarum biasanya menggunakan tulang hewan atau kayu karai yang diruncingkan. Tangkai kayu berjarum itu kemudian dipukul pelan-pelan dengan kayu pemukul agar zat pewarna masuk ke dalam lapisan kulit. Zat pewarna tato yang digunakan terbuat dari campuran warna alami, yaitu terbuat dari tebu dan arang tempurung kelapa. Pembuatan tato dimulai dari telapak tangan, tangan, kaki lalu tubuh. Bagian tubuh yang baru ditato biasanya akan bengkak dan berdarah selama beberapa hari. 


Selain motif garis, terdapat motif tato lainnya yang dibuat mengikuti sejumlah aturan tertentu, biasanya dibedakan berdasarkan asal kampung atau klan. Hal ini sehubungan dengan fungsi tato sebagai identitas dan jati diri suku Mentawai. Motif juga menggambarkan jati diri dan status sosial atau profesi seseorang. Tato seorang tetua adat (sikerei) akan berbeda dengan tato yang berprofesi sebagai pemburu. Pemburu akan ditato dengan gambar binatang tangkapannya, seperti burung, babi, kera, rusa, atau buaya. Sementara sikerei biasanya memiliki tato bintang sibalu-balu di tubuhnya. Menurut hasil penelitian Ady Rosa, dosen Seni Rupa Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat, tato bagi suku Mentawai juga merupakan simbol keseimbangan alam dan keindahan. Benda-benda seperti batu, hewan dan tumbuhan juga diabadikan di tubuh mereka dalam bentuk tato.

Tato suku Mentawai disebut dengan istilah titi, sedangkan orang yang pandai menato disebut sipatiti atau sipaniti. Tidak semua orang dapat menjadi sipatiti atau sipaniti. Biasanya sipatiti atau sipaniti diberi seekor babi atau beberapa ekor ayam sebagai balas jasa bagi seni rajah yang berhasil mereka kerjakan. 

Proses pembuatan tato pun tidak boleh sembarangan melainkan mengikuti sejumlah prosedur adat yang mereka percayai dan memakan waktu yang lama. Tahap persiapannya saja bisa sampai berbulan-bulan. Sejumlah upacara dan pantangan (punen) harus dilewati atau dilakukan sebelum proses tato dilakukan. Melewati tahapan tersebut pun bukanlah hal yang mudah, sekalipun bagi orang suku Mentawai sendiri. Ritual upacara akan dipimpin oleh sikerei (dukun adat Mentawai). Tuan rumah perlu pula mengadakan pesta dengan menyembelih babi dan ayam. Biaya yang disiapkan untuk upacara membuat tato ini terbilang cukup mahal sebab dapat menghabiskan jutaan rupiah.

Kini seni tato Mentawai terancam punah; hanya sebagian kecil saja suku Mentawai yang masih menato tubuh mereka. Padahal pada zaman dahulu, tato merupakan seni rajah tubuh yang populer dan “dikenakan” baik bagi bagi laki-laki maupun perempuan Mentawai. Beberapa suku Mentawai yang masih mempraktekkan seni tato tubuh dapat ditemui di pedalaman Pulau Siberut, seperti di Desa Madobak, Ugai, Matotonan.


Ancaman punahnya seni tato ini diakibatkan oleh beberapa faktor. Selain karena perkembangan zaman dan masuknya ajaran agama ke kelompok suku Mentawai yang dulunya animisme, tato Mentawai pernah pula melewati masa pemusnahan lewat peratuhan pemerintah sekitar tahun 1980. Ratusan motif tato khas Mentawai yang pernah dilukiskan di tubuh penduduk asli Mentawai pun tidak sempat terdokumentasikan.


Hal tersebut sungguh sangat disayangkan. Ady Rosa, dosen Seni Rupa Universitas Negeri Padang yang telah lebih dari 10 tahun meneliti tato menyimpulkan bahwa tato Mentawai adalah seni rajah tubuh yang tertua di dunia. Berdasarkan penelitian yang ia lakukan, Ady menemukan bahwa tato Mentawai bahkan lebih tua usianya daripada tato Mesir. Encyclopaedia Britannicamencatat bahwa tato tertua ditemukan pada mumi di Mesir (1300 SM). Sementara, orang suku Mentawai sudah menato badan mereka sejak kedatangan mereka ke pantai barat Sumatera pada Zaman Logam (1500 SM-500 SM). 

Konon, orang Mentawai adalah suku bangsa protomelayu yang datang dari Yunan, kemudian berbaur dengan budaya dongson di Vietnam. Mereka berlayar ke Samudra Pasifik dan Selandia Baru hingga sampai di pantai Barat Sumatera. Terlebih lagi ditemukan kemiripan tato Mentawai dengan tato hasil seni budaya dongson di Vietnam. Selain itu, motif tato serupa ditemukan juga pada beberapa suku di Hawaii, Kepulauan Marquesas, suku Rapa Nui di Kepulauan Easter, serta suku Maori di Selandia Baru.

Rimpu, Jilbab Ala Orang Bima

Rimpu: Jilbab khas Suku Mbojo (Bima)
(Foto: alanmalingi)

Bila ada yang ingin berliburan ke Bima (Pulau Sumbawa) di Nusa Tenggara Barat, maka jangan kaget bila melihat sebagian wanita di desa-desa sana berpakaian seperti ninja bersarung. Itulah Jilbabnya Orang Bima, Rimpu namanya. Rimpu merupakan jilbab dari sarung khas Bima yang dililitkan di kepala. Sarung khas Bima yang digunakan untuk Rimpu adalah sarung Tembe Nggoli. 

Wanita-wanita Suku Mbojo ini sudah menggunakan Rimpu sudah dari dulu kala, bahkan jauh sebelum islam masuk Bima.Terdapat dua jenis Rimpu, yaitu Rimpu Mpida dan Rimpu Colo. rimpu Mpida merupakan Rimpu yang menututi seluruh kepala hingga dada kecuali mata. lebih tepatnya Rimpu Mpida ini seperti orang yang berjilbab dengan menggunakan cadar. Sedangkan Rimpu Colo adalah rimpu yang menutupi kepala hingga dada kecuali wajah atau seperti orang-orang berjilbab pada umumnya. 

Rimpu Mpida (Foto: harmonysultan)

Rimpu Colo (Foto: indo blog)

dahulu kala, kaum wanita Bima menggunakan Rimpu untuk menghindari panas terik matahari ketika sedang bekerja. Namun sebenarnya manfaat dari Rimpu melebihi dari sekedar menghidarkan dari panas, namun pemakaian Rimpu juga dimaksudkan agar dapat melindungi wanita dari gangguan laki-laki. Denngan menggunakan Rimpu, para laki-laki segan untuk mengganggu bahkan mereka menghormati wanita yang menggunakan Rimpu. 

Namun sayang, seiring dengan perkembangan zaman Rimpu seakan mulai tersisih dari kehidupan orang Bima. Untuk mencari orang yang masih menggunakan Rimpu ini cukup susah. hanya kalangan para orang tua saja yang masih banyak menggunakan Rimpu, khususnya di daerah pedesaan. 

Sumber: dari berbagai sumber

Sabtu, 24 Mei 2014

Peresean: Uji Kejantanan Ala Suku Sasak Lombok

Peresean, Sembalun Lombok Timur 
(Foto: lombok photographer)


Peresean adalah salah satu seni tradisinal pertarungan antara dua orang petarung (pepadu) jawara asli lombok. Peresean merupakan simbol kejantanan suku sasak di Pulau Lombok. Para Petarung dilengkapi rotan sebagai pemukul disebut penjalin yang ujungnya dilapisi balutan aspal dan pecahan beling ditumbuk sangat halus dan Ende (perisai0 sebagai pelindung yang terbuat dari  kulit sapi atau kulit kerbau.


Presean atau bertarung dengan rotan adalah budaya dari Suku Sasak yang unik. Pada awalnya Presean hanya dilakukan saat upacara adat yang selalu dilaksanakan pada bulan tujuh (kalender Sasak) untuk meminta hujan. Namun kini Presean kerap dilakukan pada perayaan hari kemerdekaan RI dan menjadi tontonan yang unik dan diminati wisatawan.


Permalink gambar yang terpasang
Peresean di Lombok (Foto: all about lombok)
Presean ini dilakukan oleh dua orang lelaki Sasak yang bersenjatakan tongkat rotan (penjalin) dan memakai perisai sebagai pelindung yang terbuat dari kulit kerbau tebal yang biasa disebut Ende. Pertarungan ini dipimpin oleh dua wasit. Yakni Pakembar Sedi yaitu wasit yang berada di pinggi lapangan dan Pakembar Tengaq, yaitu wasit yang berada di tengah lapangan. Selama pertarungan berlangsung, masing-masing petarung atau pepadu saling menyerang dan menangkis sabetan lawan dengan menggunakan Ende. Petarungan diadakan dengan sistem 5 ronde. Pemenang dalam Presean ditentukan dengan dua cara yaitu ketika kepala atau anggota badan salah satu petarung mengeluarkan darah, maka pertarungan dianggap selesai dan pihak yang menang adalah yang tidak mengeluarkan darah. Kedua, jika petarung sama-sama mampu bertahan selama 5 ronde, maka pemenangnya ditentukan dengan skor tertinggi. Skor didasarkan pada pengamatan pekembar sedi terhadap seluruh jalannya pertarungan.
Uniknya, Presean juga diiringi musik yang disebut gendang (gending) presean. Alat-alat musiknya terdiri dari dua buah gendang, satu buah petuk, satu set rencek, satu buah gong dan satu buah suling. Jenis-jenis gending Presean dibagi menjadi 3 macam, yakni gending rangsang yaitu gending yang dimainkan pada saat Pakembar dengan dibantu pengadol mencari petarung dan lawan tandingnya. Kedua, gending mayuang, yaitu gending yang bertujuan untuk memberi tanda bahwa telah ada dua pepadu yang siap dan sama-sama berani melakukan Presean. Yang ketiga adalah gending beradu yaitu gending yang bertujuan untuk membangkitkan semangat petarung maupun penonton dan dimainkan selama berlangsungnya pertarungan.
Nah, walaupun namanya pertarungan, namun setiap akhir acara, masing-masing petarung harus berpelukan dan tidak menyimpan dendam. Petarung yang terluka akan segera diobati oleh dukun dengan sejenis obat minyak dan ramuan tertentu. Seni ini bertujuan untuk menguji keberanian, ketangkasan dan ketangguhan seorang pepadu dalam pertandingan. Uniknya, para pepadu tidak dipersiapkan sebelumnya karena para petarung diambil dari penonton sendiri ketika acara dimulai. Ada dua cara untuk mendapatkan pepadu atau petarung yakni dengan wasit menunjuk langsung penonton yang hadir atau seorang pepadu yang telah memasuki arena menantang penonton untuk melawannya. Tak heran jika, saat Presean digelar, penonton akan meluber di pinggir arena. Permainan ini selain seru juga menjadi aset budaya Lombok.

Permalink gambar yang terpasang
Pergasingan Hill, Sembalun (Foto: lombok photographer)

Permalink gambar yang terpasang
Peresean vs Gendang Beleq (Foto: lombok photographer)

Dari berbagai sumber

Suku Dhani Potong Jari Ketika Berduka

Suku Dani bermukim di lembah Baliem(138030’– 139030’ BT dan 3400’ – 4200’LS)., Irian Jaya. Lembah ini berada di tengah-tengah pegunungan Jaya Wijaya pada ketinggian 1600 meter di atas permukaan laut. Lembah Baliem memiliki luas sekitar 1200 km2. Suku Dani lebih senang disebut bangsa Parim atau orang Baliem. Suku ini sangat menghormati nenek moyangnya, biasanya dilakukan melalui upacara pesta babi. Setidaknya ada 5.000 Dani tinggal di lembah  dan lain lima puluh ribu lainnya  atau lebih menghuni permukiman curam-sisi sepanjang lembah . Suhunya ringan, curah hujan sedang, dan terdapat satwa liar berbahaya dan penyakit-penyakit langka.

anak-anak suku dhani (Foto: cepi wungkul)


Lembah Baliem (Foto: Berbagi ilmu)

Budaya Potong Jari

Potong Jari (Foto: Greenbirepapua)

Begitu banyak cara untuk menunjukkan kesedihan dan rasa duka cita ditinggalkan anggota keluarga yang meninggal dunia. Butuh waktu lama untuk mengembalikan kembali perasaan sakit kehilangan. Namun berbeda dengan Suku Dani di Papua, mereka mempunyai tradisi yang cukup aneh. Apabila ada salah satu anggota keluarga yang meninggal, tidak hanya dengan menangis, mereka juga memotong jarinya. 

Pemotongan jari ini melambangkan kepedihan dan sakitnya bila kehilangan anggota keluarga yang dicintai. Ungkapan yang begitu mendalam, bahkan harus kehilangan anggota tubuh. Bagi masyarakat pegunungan tengah, keluarga memiliki peranan yang sangat penting. Bagi masyarakat Balim Jayawijaya kebersamaan dalam sebuah keluarga memiliki nilai-nilai tersendiri.

Bukan hanya suku dani saja yang melakukan hal tersebut. Di luar negeri, gang yakuza akan memotong salah satu jari anggotanya bila mereka gagal menjalankan misi.  


Mengapa harus memotong jari? 


Bagi Suku Dani, jari bisa diartikan sebagai simbol kerukunan, kebersatuan, dan kekuatan dalam diri manusia maupun sebuah keluarga. Walaupun dalam penamaan jari yang ada di tangan manusia hanya menyebutkan satu perwakilan keluarga yaitu ibu jari. Akan tetapi jika dicermati perbedaan setiap bentuk dan panjang jari memiliki sebuah kesatuan dan kekuatan kebersamaan untuk meringankan semua beban pekerjaan manusia. Jari saling bekerjasama membangun sebuah kekuatan sehingga tangan kita bisa berfungsi dengan sempurna. Kehilangan salah satu ruasnya saja, bisa mengakibatkan tidak maksimalnya tangan kita bekerja. Jadi jika salah satu bagiannya menghilang, maka hilanglah komponen kebersamaan dan berkuranglah kekuatan.


Alasan lainya adalah "Wene opakima dapulik welaikarek mekehasik" atau pedoman dasar hidup bersama dalam satu keluarga, satu marga, satu honai (rumah), satu suku, satu leluhur, satu bahasa, satu sejarah/asal-muasal, dan sebagainya. Kebersamaan sangatlah penting bagi masyarakat pegunungan tengah Papua. Kesedihan mendalam dan luka hati orang yang ditinggal mati anggota keluarga, baru akan sembuh jika luka di jari sudah sembuh dan tidak terasa sakit lagi. Mungkin karena itulah masyarakat pegunungan Papua memotong jari saat ada keluarga yang meninggal dunia.


Tradisi Potong Jari di Papua sendiri dilakukan dengan berbagai banyak cara, mulai dari menggunakan benda tajam seperti pisau, kapak atau parang. Ada juga yang melakukannya dengan menggigit ruas jarinya hingga putus, mengikatnya dengan seutas tali sehingga aliran darahnya terhenti dan ruas jari menjadi mati, kemudian baru dilakukan pemotongan jari.


Selain tradisi pemotongan jari, di Papua juga ada tradisi yang dilakukan dalam upacara berkabung. Tradisi tersebut adalah tradisi mandi lumpur. Mandi lumpur dilakukan oleh anggota atau kelompok dalam jangka waktu tertentu. Mandi lumpur mempunyai arti bahwa setiap orang yang meninggal dunia telah kembali ke alam. Manusia berawal dari tanah dan kembali ke tanah.


dari berbagai sumber 

Kamis, 22 Mei 2014

12 Suku Penduduk Raja Ampat






Ampat menjadi salah satu kepulauan paling eksotis di dunia. Asal usul Raja Ampat tak bisa dilepaskan dari suku asli yang mendiami pulau terbesar di Raja Ampat, Waigeu. Yakni suku Maya."Suku maya adalah sebutan untuk suku asli raja ampat. Berasam dari kata mam dan ya yang artinya, bapa sesungguhnya saya ada. Suku maya berasal dari teluk mayalibit berarti kamar atau ruangan. Kamar untuk orang-orang maya," kata tokoh adat suku maya. Orang maya belum keluar dari pedalaman menuju pantai hingga abad ke-19."Orang maya tidak ada tinggal di pantai. Mereka tinggal di hutan dan gunung. Mereka tinggal di rumah atap sederhana. Kemudian datang orang Biak, adalah penjelajah di laut. Munculnya suku biak membuat orang maya yang baru turun ke pantai mengenal perahu lebih jelas. Kemudian pancing yang awalnya hanya sejenis tali atau benang dari pohon genemo membuat mereka semakin kenal alat memancing, dan Hingga saat ini suku asli Raja Ampat ini masih berdiam di pulau Waigeu. Namun penamaan Raja Ampat juga dihubungkan dengan empat pulau besar di Raja Ampat. "Pulau Waigeu, Solawati, Batanta, dan Misol. Juga dihubungkan dengan empat suku yang ditanggal di Waigeu, suku ambel, langganyan, kawei, dan wawiyai.Selurah penduduk pulau Raja Ampat kini memeluk agama Islam dan agama Keristen namun disisi lain mereka tetap mempertahankan kehidupan asli mereka yaitu agama primitif dimana budaya mon atau jin masih melekat dalam upacara persembahan dimalam hari dan menari sampai pagi.

Penduduk asli kabupaten Raja Ampat adalah terdiri dari lebih dari 10 suku adat. Suku adat ini ada yang telah mendiami wilayah kepulauan Raja Ampat maupun yang berimirgrasi dari wilayah kepulauan lain di sekitar Raja Ampat.  Dalam buku Profil Ragam Wisata Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, sebuah buku yang dipublikasikan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten Raja Ampat, disampaikan bahwa ada  paling tidak ada 12 suku adat yang saat ini mendiami gugusan kepulauan Raja Ampat, yaitu:
1. Suku Wawiyai (Wauyai)
2. Suku Kawe
3. Suku Laganyan
4. Suku Ambel (Waren)
5. Suku Batanta
6. Suku Tepin
7. Suku Fiat, Domu, Waili dan Butlih
8. Suku Moi (Moi-Maya)
9. Suku Matbat
10. Suku Misool
11. Suku Biga
12.Suku Biak

Seperti lirik sebuah lagu karangan Frankie Sahilatua (alm) berjudul "Aku Papua" yang seringkali dinyanyikan oleh artis asal Papua Edo Kondologit, ciri khas penduduk asli kepulauan Raja Ampat adalah  layaknya saudara kita yang berasal dari tanah Papua yaitu berkulit hitam dan berambut keriting. Sebagai  penduduk yang mendiami wilayah kepulauan yang  sebagian besar wilayahnya adalah perairan laut, maka sumber mata pencaharian utama mayoritas masyarakat Raja Ampat adalah dengan mengolah berbagai sumber daya alam yang berasal dari laut  seperti nelayan, pembuat ikan asin, pencari rumput  laut, atau sebagai penyedia jasa transportasi laut antar pulau dll. Masyarakat suku adat  kabupaten Raja Ampat memiliki rasa kekerabatan yang kuat antara satu sama lain.  Banyak suku dan kelompok adat yang masih merasa dirinya berasal dari satu garis keturunan.  Ciri-ciri kehidupan masyarakat ada kabupaten Raja Ampat adalah: Hidup berkelompok dalam sebuah suku  dan tiap-tiap suku berpencar  satu sama lain.  Hidupnya bergantung kepada hasil alam dan sering berpindah (kecuali yang sudah mengenal budaya modern), Tali persaudaraan anta suku yang kuat, menganut gari keturunan ayah dan ibu, memiliki kepercayaan magis dan tata cara adat.

Jumlah penduduk Kabupaten Raja Ampat pada tahun 2008 tercatat 41.170 jiwa (Proyeksi 2008). Sekitar 52.75% dari total penduduk adalah laki-laki,  sisanya 47.25 % perempuan. Dilihat dari struktur umurnya, komposisi penduduk Kabupaten Raja Ampat tergolong penduduk muda. Persentase  penduduk pada kelompok umur muda lebih besar daripada kelompok umur tua. Pada kelompok umur 0 – 4 tahun tercatat 12,5 persen penduduk sedangkan pada kelompok umur 75 tahun atau lebih tercatat 0,31 persen.

Selasa, 20 Mei 2014

Uniknya Budaya Suku Sasak Lombok

Nama suku sasak berasal dari kata sak-sak (dalam bahasa sasak) yang berarti sampan. Hal ini karena nenek moyang orang Lombok dahulu menggunakan sampan untuk mengitari Pulau Lombok dari arah barat menuju ke arah timur atau sekarang dikenal dengan Pelabuhan Lombok menggunakan sampan. Sumber lain yang menyebutkan makna kata sasak dari aspek filosofisnya adalah kitab Negara kertagama yang merupakan kitab yang memuat catatan kekuasaan Kerajaan Majapahit yang digubah oleh Mpu Prapanca. Dalam kitab ini disebutkan bahwa kata sasak berasal dari tradisi lisan masyarakat setempat yaitu lombok sasak mirah adi. Dalam tradisi lisan masyarakat setempat kata sasak berasal dari katasa-saq yang berarti satu atau kenyataan dan lombok berasal dari kata lomboq (bahasa kawi) yang berarti lurus atau jujur sedangkan  mirah berarti permata dan adi artinya baik atau yang baik. Maka lombok mirah sasak adi  berarti kejujuran adalah permata kenyataan yang baik atau utama.
Masyarakat Suku Sasak merupakan masyarakat yang masih memegang teguh tradisi dan mempertahankan kebudayaan sampai saat ini. Kini, Suku Sasak bukan hanya sebuah kelompok masyarakat tapi juga merupakan salah satu etnis yang melambangkan kekayaan tradisi yang dimiliki oleh Indonesia. Sebagian besar masyarakat Sasak memiliki mata pencaharian sebagai petani. Oleh karena itulah, atap berbentuk Lumbung Padi menjadi ciri khas suku Sasak dan masyarakat Lombok. Seperti halnya suku Minang Kabau yang memiliki ciri khas atap berbentuk kepala kerbau. 
rumah-adat-21
Rumah adat suku sasak (Foto: budayaindonesia)
Di luar musim panen, masyarakat suku Sasak menenun dengan berbagai motif dan harga. Karena itulah, di sepanjang gang desa tersebut, kita akan menemui penduduk setempat yang menjual berbagai tenun dan cinderamata. Tidak perlu khawatir dengan harganya, sebab kita masih dapat menawar semua barang-barang yang dijual di sana.
Budaya Unik Suku Sasak
1. Membersihkan Lantai dengan Kotoran kerbau
Sebagai desa wisata, masyarakat di sana masih mempertahankan rumah adat mereka. Rumah tersebut menggunakan atap dari rumput alang-alang yang bisa bertahan sekitar tujuh tahun hingga delapan tahun, dinding yang terbentuk dari anyaman, serta pintu kayu. Begitu pula dengan lantainya yang sebagian masih terbuat dari tanah liat. Agar tidak terkelupas, maka masyarakat setempat membersihkan lantai tersebut dengan menggunakan air yang dicampur dengan kotoran kerbau. Cara tersebut sudah ada sejak zaman dahulu mengingat awalnya suku Sasak menganut animisme. Mereka percaya membersihkan lantai dengan kotoran kerbau dapat membuat rumah lebih bersih dan suci. Saat ini, meski masyarakat sudah beragama Islam, cara tersebut masih dipertahankan.
“Dengan menggunakan campuran kotoran kerbau, lantai rumah akan menjadi lebih licin dan bersih. Sebab, dengan itu, tanah liatnya akan lebih padat dan keras, kalau tidak, dia akan terkelupas,” tuturnya.
2. Kawin Lari (Merariq)
Permalink gambar yang terpasang
Dedare Sasak / Perempuan Suku Sasak 
(Foto: all about lombok)
Budaya pernikahan tanpa lamaran alias kawin lari yang disebut merariq. Ini berbeda dengan masyarakat pada umumnya yang harus meminta lamaran kepada keluarga sebelum menikahi anak gadis orang. Jadi, ketika keduanya sudah sama-sama cocok, si pria akan membawa lari wanita untuk diinapkan di rumahnya. Setelah itu, keluarga pria akan memberi tahu kepala kampung untuk menyampaikan kepada orang tua si gadis perihal anaknya yang hilang diculik. Setelah semua berkumpul dan disepakati, barulah keduanya dinikahkan secara resmi. “Jadi budaya menikah di sini tanpa lamaran.”
3. Peresean

Peresean (Foto: all about lombok)
Peresean (Foto: yukpegi.com)
Peresean adalah salah satu seni tradisinal pertarungan antara dua orang petarung (pepadu) jawara asli lombok. Peresean merupakan simbol kejantanan suku sasak di Pulau Lombok. Para Petarung dilengkapi rotan sebagai pemukul disebut penjalin yang ujungnya dilapisi balutan aspal dan pecahan beling ditumbuk sangat halus dan Ende (perisai0 sebagai pelindung yang terbuat dari  kulit sapi atau kulit kerbau.
4. Bau Nyale
Karnaval Jelang Festival 'Bau Nyale' - foto (detikfoto)
Karnaval Jelang Festival 'Bau Nyale (Foto: rumahalir)

Permalink gambar yang terpasang
Arakan Putri Mandalika saat festival Bau Nyale
(Foto: all about lombok)
Bau nyale yang rutin dilakukan masyarakat Loteng setiap tahun, memiliki hubungan erat dengan legenda putri Mandalika yang menceburkan diri ke laut. Masyarakat Suku sasak, khususnya warga Loteng sangat percaya kalau nyale (cacing palolo) merupakan jelman putri Mandalika. Bau Nyale adalah sebuah peristiwa dan tradisi yang sangat melegenda dan mempunyai nilai sakral tinggi bagi suku Sasak. Tradisi ini diawali oleh kisah seorang Putri Raja Tonjang Baru yang sangat cantik yang dipanggil dengan Putri Mandalika. Karena kecantikannya itu para Putra Raja, memperebutkan untuk meminangnya. Jika salah satu Putra raja ditolak pinangannya maka akan menimbulkan peperangan. Sang Putri mengambil keputusan pada tanggal 20 bulan kesepuluh untuk menceburkan diri ke laut lepas. Dipercaya oleh masyarakat hingga kini bahwa Nyale adalah jelmaan dari Putri Mandalika. Nyale adalah sejenis binatang laut berkembang biak dengan bertelur, perkelaminan antara jantan dan betina. Upacara ini diadakan setahun sekali pada setiap akhir Februari atau Maret. Bagi masyarakat Sasak, Nyale dipergunakan untuk bermacam-macam keperluan seperti santapan (Emping Nyale), ditaburkan ke sawah untuk kesuburan padi, lauk pauk, obat kuat dan lainnya yang bersifat magis sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Bau Nyale (Foto: Lombok-eccotour)
Cacing Palolo (foto: kompasberita)
(dari berbagai sumber)

Senin, 19 Mei 2014

Suku Korowai, Suku dengan Rumah Pohon Tertinggi di Dunia

(Rumah Tinggi)

RUMAH Pohon seperti di cerita Tarzan ternyata memang benar-benar ada. Salah satunya terdapat di Papua, Indonesia. Hamparan hutan yang luas di Papua, ditinggali sekelompok suku kecil salah satunya suku Korowai.  
Suku Korowai adalah salah satu suku di daratan Papua yang tidak menggunakan koteka. Suku ini baru ditemukan keberadaannya sekitar 30 tahun yang lalu di pedalaman Papua dan berpopulasi sekitar 3000 orang. Suku terasing ini hidup di rumah yang di bangun di atas pohon yang disebut Rumah Tinggi. Beberapa rumah mereka bahkan bisa mencapai ketinggian sampai 50 meter dari permukaan tanah.

Rumah pohon ini sengaja dibuat sedemikian rupa untuk melindungi diri mereka dari banjir, kebakaran, atau serangan hewan liar. Di dalamnya, tempat tinggal mereka dibagi menjadi dua, daerah untuk pria dan wanita.

Bahan yang digunakan untuk membuat rumah pohon berasal dari hutan dan rawa di sekitar, seperti kayu, rotan, akar dan ranting pohon. Untuk mengikat rumah pohon di gunakan tali, dan semua proses pembuatan rumah dilakukan dengan menggunakan tangan.

Rumah pohon ala suku Korowai memang merupakan hasil budaya yang unik dan perlu dijaga kelestariannya. Jika Anda seorang petualang sejati dan sangat tertarik dengan suku-suku pedalaman Indonesia, wajib bagi Anda untuk mengunjungi suku Korowai.

Sumber : okzone.com