Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Juni 2014

Sebagai Penunjuk Umur, Suku Ini Memanjangkan Telinga

Suku Dayak (Foto: inibangsaku.com)


Tradisi memanjangkan cuping telinga menjadi salah satu keunikan budaya di Kalimantan. Meski sebenarnya tidak semua suku melakukannya, tapi budaya ini sudah terlanjur melekat dengan masyarakat dayak secara umum. Namun sayangnya dari waktu ke waktu, tradisi ini semakin menghilang, dan saat ini hanya tinggal sedikit orang Dayak yang masih memiliki cuping telinga panjang, itu pun umumnya generasi tua.


Salah satunya di Kampung Bena Baru yang dihuni sekitar 700 jiwa penduduk. Kampung Bena Baru adalah salah satu kampung pedalaman suku Dayak Kenyah yang berada di Sungai Kelay, Kecamatan Sambaliung. Kehidupan masyarakat di tempat ini masih berjalan berdampingan dengan tradisi dan kultur lokal, lengkap dengan upacara adat dan tari-tarian khasnya. Sebagian peralatan kerja dan rumah tangga merupakan hasil buatan tangan sendiri. Tapi bukan berarti penduduk kampung ini merasa asing terhadap perkembangan teknologi seperti televisi, telepon seluler, dan alat-alat elektronik lainnya. Kampung yang baru dibuka pada tahun 1980-an ini memiliki sekitar 20 orang nenek yang memiliki telinga cuping panjang. 


Daun telinga cuping panjang tidak hanya diperuntukkan bagi wanita, tetapi juga untuk laki-laki. Proses pemanjangan cuping telinga mulai dilakukan sejak bayi. Hal ini umumnya dikaitkan dengan tingkatan sosial seseorang dalam masyarakat Dayak. Bagi suku Dayak Kayan, misalnya, telinga cuping panjang menunjukkan kalau orang tersebut berasal dari kalangan bangsawan. Sementara bagi perempuan, telinga cuping panjang menunjukkan apakah dia seorang bangsawan atau budak karena kalah perang atau tidak mampu membayar utang.


Di kalangan masyarakat Dayak Kayan, pemanjangan cuping daun telinga ini biasanya menggunakan pemberat berupa logam berbentuk lingkaran gelang atau berbentuk gasing ukuran kecil. Dengan pemberat ini daun telinga akan terus memanjang hingga beberapa sentimeter.


Di desa-desa yang berada di hulu Sungai Mahakam, telinga cuping panjang digunakan sebagai identitas yang menunjukkan umur seseorang. Begitu bayi lahir, ujung telinganya diberi manik-manik yang cukup berat. Jumlah manik-manik yang menempel di telinganya akan bertambah satu untuk setiap tahun.


Tetapi ada juga anggapan yang mengatakan kalau tujuan pembuatan telinga panjang bukanlah untuk menunjukkan status kebangsawanan, tetapi justru untuk melatih kesabaran. Jika dipakai setiap hari, kesabaran dan kesanggupan menahan derita semakin kuat.


Sementara bagi suku Dayak Kenyah, antara laki-laki dan perempuan memiliki aturan panjang cuping telinga yang berbeda. Kaum laki-laki tidak boleh memanjangkan cuping telinganya sampai melebihi bahunya, sedangkan perempuan boleh memanjangkannya hingga sebatas dada. Proses memanjangkan cuping daun telinga ini diawali dengan penindikan daun telinga sejak masih berumur satu tahun. Setiap tahun, satu buah anting atau subang perak digantungkan di telinga mereka. Gaya anting atau subang perak yang digunakan pun berbeda-beda, yang akan menunjukkan perbedaan status dan jenis kelamin. Gaya anting kaum bangsawan tidak boleh dipakai oleh orang-orang biasa

Senin, 26 Mei 2014

Suku Kubu, Suku Mistik Yang Ditakuti

Suku Kubu (Foto: wicaksana)

Ilmu Ghaib, sensitif, dan misterius. kata-kata itulah yang tergambar dalam benak saya ketika mendengar kata suku kubu yang hidup berpindah-pindah ini. Sebagai anak melayu, saya selalu diceritakan oleh ayah bahwa suku kubu adalah suku yang mudah marah, dan mempunyai ilmu ghaib.

"Jangan meludah di adapan suku kubu kalu dendak milu die." begitulah kata ayah yang memperingatkan aku supaya jangan pernah berludah di depan suku kubu. Karena bila mereka tersinggung, konon katanya mereka akan bersumpah bahwa kita akan menjadi bagian dari mereka. Jika itu terjadi, maka kita akan mengikuti mereka kemanapun mereka pergi. 

Besar di daerah pedalaman sumatera membuat saya tidak asing dengan suku kubu ini. Pernah beberapa kali ada beberapa kelompok suku kubu ini menetap beberapa minggu di hutan ujung desa saya. Mereka biasanya membuat rumah sementara mereka dengan terpal atau dengan ranting dedaunan di tepi sungai atau danau dekat hutan. Hal ini memudahkan mereka  mendapatkan air dan mencari bahan makanan.

Dikalangan orang melayu, Suku Kubu cukup ditakuti. selain mudah marah, mereka juga ditakuti karena ilmu ghaibnya. Suku kubu biasanya mempunyai ilmu-ilmu ghaib seperti ilmu pemikat (pelet), ilmu Bulek Kolo (apa yang diucapkan terjadi), ilmu terawangan, ilmu pelaris, ilmu roh jolong (merega sukma), dan ilmu penarik rizeki. 

Di Indonesia, Suku Kubu atau yang juga disebut  Suku Anak Dalam ini terdapat di daerah Jambi dan Sumatera Selatan. Suku Anak Dalam belum terlalu dikenal oleh masyarakat Indonesia karena Suku Anak Dalam sudah sangat langka dan mereka tinggal di tempat-tempat terpencil yang jauh dari jangkauan orang-orang.

\
Rumah Orang Kubu (Foto: uvic)

Suku Anak Dalam disebut juga Suku Kubu atau Orang Rimba. Menurut tradisi lisan suku Anak Dalam merupakan orang Malau sesat yang lari ke hutan rimba disekitar Air Hitam, Taman Nasional Bukit Dua puluh. Mereka kemudian dinamakan Moyang Segayo. Sistem kemasyarakatan mereka, hidup mereka secara nomaden atau tidak menetap dan mendasarkan hidupnya pada berburu dan meramu, walaupun diantara mereka sudah banyak yang telah memiliki lahan karet ataupun pertanian lanilla.

Anaka-anak Suku Kubu (Foto: indonesia media)

Sistem kepercayaan mereka adalah Polytheisme yaitu mereka mempercayai banyak dewa. Dan mereka mengenal dewa mereka dengan sebutan Dewo dan Dewa. Ada dewa yang baik adapula dewa yang jahat. Selain kepercayaan terhadap dewa mereka juga percaya adanya roh nenek moyang yang selalu ada disekitar mereka.

Pemerintah telah berupaya memberikan pendidikan kepada suku kubu agar mereka dapat mengikuti perkembangan zaman. Pemerintah juga mendirikan perkampungan trans bagi suku kubu agar mereka mulai hidup menetap dan tidak berpindah-pindah lagi. Suku Kubu juga Sangat antusias terhadap pendidikan. Khususnya suku kubu dari wilayah sumatera selatan. Mereka sangat bersemangat mengikuti belajar di sekolah. Tak hanya anak-anak saja yang bersekolah akan tetapi juga orang dewasa pun mengikutinya. Mereka berpikir bahwa dengan bersekolah mereka akan pintar dan tak mudah untuk dibodohi oleh orang luar. Walaupun masih ada sebagian kelompok yang masih hidup berpindah-pindah, namun mereka sudah memakai baju layaknya orang biasa.

Namun upaya pemerintah tersebut kurang berjalan mulus di provinsi Jambi. Suku kubu Jambi merupakan suku yang memegang erat budaya mereka. mereka tidak dengan mudah menerima budaya luar. Jika kita melihat pola kehidupan dan penghidupan mereka, hal ini disebabkan oleh keterikatan adat istiadat yang begitu kuat. Hidup berkelompok yang berpindah-pindah dengan pakaian hanya sebagian menutupi badan dengan kata lain mereka sangat tergantung dengan hasil hutan / alam dan binatang buruan.

Sumber : dari berbagai sumber

Tato Mentawai, Seni Rajah Tertua di Dunia

Tato Mentawai (Foto: kaskus)

Bagi suku Mentawai, tato atau rajah merupakan bentuk ekspresi seni dan juga perlambang status sosial dalam masyarakat. Selain itu, tato dapat pula dianggap sebagai pakaian abadi yang akan dibawa mati. Disebut pakaian sebab tato khas Mentawai di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat memang biasanya memenuhi sekujur tubuh, mulai dari kepala hingga ke kaki. Bahkan konon orang Mentawai menato tubuh mereka agar kelak setelah meninggal, mereka dapat saling mengenali leluhur mereka.  


Seperti halnya seni tato tradisional lainnya, proses pembuatan tato Mentawai dilakukan dengan alat tradisional, motif tertentu yang tidak mengalami banyak perkembangan sebab memang sudah menjadi simbol khusus atau identitas budaya. Tubuh yang akan ditato terlebih dulu digambari motif menggunakan lidi. Motif garis-garis yang merupakan motif khas tato Mentawai tidak sembarang ditorehkan melainkan mengikuti rumusan jarak tertentu. Biasanya sistem pengaturan jarak ini memanfaatkan jari, misal satu jari, dua, atau seterusnya. 

digambar kemudian ditusuk dengan jarum bertangkai kayu. Jarum biasanya menggunakan tulang hewan atau kayu karai yang diruncingkan. Tangkai kayu berjarum itu kemudian dipukul pelan-pelan dengan kayu pemukul agar zat pewarna masuk ke dalam lapisan kulit. Zat pewarna tato yang digunakan terbuat dari campuran warna alami, yaitu terbuat dari tebu dan arang tempurung kelapa. Pembuatan tato dimulai dari telapak tangan, tangan, kaki lalu tubuh. Bagian tubuh yang baru ditato biasanya akan bengkak dan berdarah selama beberapa hari. 


Selain motif garis, terdapat motif tato lainnya yang dibuat mengikuti sejumlah aturan tertentu, biasanya dibedakan berdasarkan asal kampung atau klan. Hal ini sehubungan dengan fungsi tato sebagai identitas dan jati diri suku Mentawai. Motif juga menggambarkan jati diri dan status sosial atau profesi seseorang. Tato seorang tetua adat (sikerei) akan berbeda dengan tato yang berprofesi sebagai pemburu. Pemburu akan ditato dengan gambar binatang tangkapannya, seperti burung, babi, kera, rusa, atau buaya. Sementara sikerei biasanya memiliki tato bintang sibalu-balu di tubuhnya. Menurut hasil penelitian Ady Rosa, dosen Seni Rupa Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat, tato bagi suku Mentawai juga merupakan simbol keseimbangan alam dan keindahan. Benda-benda seperti batu, hewan dan tumbuhan juga diabadikan di tubuh mereka dalam bentuk tato.

Tato suku Mentawai disebut dengan istilah titi, sedangkan orang yang pandai menato disebut sipatiti atau sipaniti. Tidak semua orang dapat menjadi sipatiti atau sipaniti. Biasanya sipatiti atau sipaniti diberi seekor babi atau beberapa ekor ayam sebagai balas jasa bagi seni rajah yang berhasil mereka kerjakan. 

Proses pembuatan tato pun tidak boleh sembarangan melainkan mengikuti sejumlah prosedur adat yang mereka percayai dan memakan waktu yang lama. Tahap persiapannya saja bisa sampai berbulan-bulan. Sejumlah upacara dan pantangan (punen) harus dilewati atau dilakukan sebelum proses tato dilakukan. Melewati tahapan tersebut pun bukanlah hal yang mudah, sekalipun bagi orang suku Mentawai sendiri. Ritual upacara akan dipimpin oleh sikerei (dukun adat Mentawai). Tuan rumah perlu pula mengadakan pesta dengan menyembelih babi dan ayam. Biaya yang disiapkan untuk upacara membuat tato ini terbilang cukup mahal sebab dapat menghabiskan jutaan rupiah.

Kini seni tato Mentawai terancam punah; hanya sebagian kecil saja suku Mentawai yang masih menato tubuh mereka. Padahal pada zaman dahulu, tato merupakan seni rajah tubuh yang populer dan “dikenakan” baik bagi bagi laki-laki maupun perempuan Mentawai. Beberapa suku Mentawai yang masih mempraktekkan seni tato tubuh dapat ditemui di pedalaman Pulau Siberut, seperti di Desa Madobak, Ugai, Matotonan.


Ancaman punahnya seni tato ini diakibatkan oleh beberapa faktor. Selain karena perkembangan zaman dan masuknya ajaran agama ke kelompok suku Mentawai yang dulunya animisme, tato Mentawai pernah pula melewati masa pemusnahan lewat peratuhan pemerintah sekitar tahun 1980. Ratusan motif tato khas Mentawai yang pernah dilukiskan di tubuh penduduk asli Mentawai pun tidak sempat terdokumentasikan.


Hal tersebut sungguh sangat disayangkan. Ady Rosa, dosen Seni Rupa Universitas Negeri Padang yang telah lebih dari 10 tahun meneliti tato menyimpulkan bahwa tato Mentawai adalah seni rajah tubuh yang tertua di dunia. Berdasarkan penelitian yang ia lakukan, Ady menemukan bahwa tato Mentawai bahkan lebih tua usianya daripada tato Mesir. Encyclopaedia Britannicamencatat bahwa tato tertua ditemukan pada mumi di Mesir (1300 SM). Sementara, orang suku Mentawai sudah menato badan mereka sejak kedatangan mereka ke pantai barat Sumatera pada Zaman Logam (1500 SM-500 SM). 

Konon, orang Mentawai adalah suku bangsa protomelayu yang datang dari Yunan, kemudian berbaur dengan budaya dongson di Vietnam. Mereka berlayar ke Samudra Pasifik dan Selandia Baru hingga sampai di pantai Barat Sumatera. Terlebih lagi ditemukan kemiripan tato Mentawai dengan tato hasil seni budaya dongson di Vietnam. Selain itu, motif tato serupa ditemukan juga pada beberapa suku di Hawaii, Kepulauan Marquesas, suku Rapa Nui di Kepulauan Easter, serta suku Maori di Selandia Baru.

Rimpu, Jilbab Ala Orang Bima

Rimpu: Jilbab khas Suku Mbojo (Bima)
(Foto: alanmalingi)

Bila ada yang ingin berliburan ke Bima (Pulau Sumbawa) di Nusa Tenggara Barat, maka jangan kaget bila melihat sebagian wanita di desa-desa sana berpakaian seperti ninja bersarung. Itulah Jilbabnya Orang Bima, Rimpu namanya. Rimpu merupakan jilbab dari sarung khas Bima yang dililitkan di kepala. Sarung khas Bima yang digunakan untuk Rimpu adalah sarung Tembe Nggoli. 

Wanita-wanita Suku Mbojo ini sudah menggunakan Rimpu sudah dari dulu kala, bahkan jauh sebelum islam masuk Bima.Terdapat dua jenis Rimpu, yaitu Rimpu Mpida dan Rimpu Colo. rimpu Mpida merupakan Rimpu yang menututi seluruh kepala hingga dada kecuali mata. lebih tepatnya Rimpu Mpida ini seperti orang yang berjilbab dengan menggunakan cadar. Sedangkan Rimpu Colo adalah rimpu yang menutupi kepala hingga dada kecuali wajah atau seperti orang-orang berjilbab pada umumnya. 

Rimpu Mpida (Foto: harmonysultan)

Rimpu Colo (Foto: indo blog)

dahulu kala, kaum wanita Bima menggunakan Rimpu untuk menghindari panas terik matahari ketika sedang bekerja. Namun sebenarnya manfaat dari Rimpu melebihi dari sekedar menghidarkan dari panas, namun pemakaian Rimpu juga dimaksudkan agar dapat melindungi wanita dari gangguan laki-laki. Denngan menggunakan Rimpu, para laki-laki segan untuk mengganggu bahkan mereka menghormati wanita yang menggunakan Rimpu. 

Namun sayang, seiring dengan perkembangan zaman Rimpu seakan mulai tersisih dari kehidupan orang Bima. Untuk mencari orang yang masih menggunakan Rimpu ini cukup susah. hanya kalangan para orang tua saja yang masih banyak menggunakan Rimpu, khususnya di daerah pedesaan. 

Sumber: dari berbagai sumber

Sabtu, 24 Mei 2014

Mulang Pekelem: Ritual Umat Hindu Lombok

Permalink gambar yang terpasang
Upacara Mulang Pekelem di Danau Segara Anak, Rinjani
(Foto: all about lombok)

Selain dikenal memiliki keindahan alam dan pesona mistis yang meliputinya, Danau Segara Anak juga merupakan tempat suci dan pusat penyelenggaraan upacara religi bagi umat Hindu di Lombok, Nusa Tenggara Barat, yaitu Upacara Mulang Pekelem. Bagi masyarakat setempat, keberadaan Gunung Rinjani memang dianggap sebagai pusat dari semesta tata ruang Lombok. Hal ini dikarenakan masyarakat sekitar percaya bahwa Gunung Rinjani adalah pelindung sekaligus gunung kehidupan Pulau Lomboksementara Danau Segara Anak adalah penyimpan atau sumber airnya. Berawal dari kesadaran ini dan dari kepercayaan serta kesetiaan terhadap adat tradisi yang berabad usianya, masyarakat di Lombok (khususnya umat Hindu) masih melaksanakan ritual Upacara Pekelem setiap lima tahun sekali.

Ritual Mulang Pekelem (Foto: Doride)
Upacara Pekelem dilaksanakan dengan tujuan memohon dan menjaga keharmonisan alam semesta. Pekelem sendiri berarti menenggelamkan sesajen (yadnya) di air; baik air laut, danau, atau kepundan gunung. Mereka percaya bahwa danau dan laut merupakan sumber air yang tentu amat penting bagi kehidupan manusia. Danau Segara Anak yang merupakan kaldera di Rinjani, dianggap memiliki kekuatan makrokosmos. Oleh karena itu, tempat ini dianggap sebagai sakral dan tepat untuk pelaksanaan upacara suci tersebut.

Sebenarnya Upacara Pekelem ini tidak hanya dilaksanakan di Danau Segara Anak oleh Suku Sasak yang beragama Hindu di Lombok. Upacara ini adalah salah satu upacara besar dan penting bagi semua umat Hindu. Bencana dan fenomena yang menunjukkan ketidakseimbangan alam adalah beberapa alasan yang menjadi dasar dilaksanakannya upacara ini oleh masyarakat Hindu sejak berabad lamanya.
 
Danau Segara Anak, Rinjani (Foto: Wonderful Indonesia)

Beberapa bukti bahwa Upacara Pekelem adalah upacara warisan leluhur Hindu dapat dilihat dari prasasti-prasasti dan lontar-lontar yang menyebutkan tentang makna atau tujuan upacara tersebut. Salah satunya adalah Prasasti Batur Sakti; pada prasasti ini  disebutkan bahwa pada tahun Saka 833, keturunan Raja Sri Ugrasena Warmadewa menyampaikan telah ada perintah dari raja untuk tetap melaksanakan Upacara Pekelem. Upacara ini hendaknya dilaksanakan di danau, laut, dan kepundan gunung yang merupakan sumber air. Air adalah sumber kehidupan bagi manusia dan merupakan lambang kemakmuran dan kesuburan.

Dalam Lontar Bhuana Kertih disebutkan bahwa tujuan dari upacara ini adalah untuk menghilangkan hama penyakit yang datang dari sumbernya, yaitu laut atau danau. Di samping itu, tujuan lainnya adalah untuk memohon kemakmuran dan kesuburan tanah pertanian dan memohon perlindungan dari ancaman bencana alam.

Konon, pelaksanaan Upacara Mulang Pekelem pertama kali dilaksanankan di Danau Segara Anak, Gunung Rinjani pada abad XVI. Asal muasal dilaksanakannya upacara ini adalah karena Kerajaan Karang Asem dilanda kemarau panjang yang berakibat pada kekeringan dan mewabahnya berbagai macam penyakit. Raja Anglurah Karang Asem pun  melakukan sembahyang dan semadi di Gunung Sari guna mendapatkan petunjuk. Dalam semadinya tersebut beliau mendapat wangsit untuk melaksanakan Mulang Pekelem dan Yadnya Bumi Sudha pada malam purnama bulan kelima di Danau Segara Anak, Gunung Rinjani. Percaya atau tidak, selepas dilaksanakannya upacara tersebut, hujan yang dinanti-nantikan sekian lama akhirnya turun membasahi tanah Suku Sasak.

Hingga hari ini, Upacara Pekelem dilaksanakan setiap lima tahun sekali, yaitu pada purnama di bulan kelima. Tiga hari sebelum purnama yang dimaksud, umat Hindu Lombok akan berbondong-bondong mendaki Gunung Rinjani sambil membawa segala kelengkapan upacara. Tentu upaya ini tidak mudah mengingat medan pendakian yang tidak mulus dan beban perlengkapan yang tidak sedikit. Namun begitu, hal tersebut seolah bukan halangan bagi mereka dan dianggap sebagai salah satu pengorbanan yang dapat dilakukan sebagai wujud ketaatan terhadap Sang Hyang Widhi (Tuhan). Tidak hanya orang dewasa, bahkan anak-anak pun turut serta dalam upacara ini dan turut mendaki gunung agar sampai di pusat pelaksanaan upacara, Danau Segara Anak.

Dalam pendakian, segenap umat Hindu pelaksana upacara akan singgah di beberapa tempat yang dianggap suci dan bahkan menginap di titik tertentu sambil melaksanakan sembahyang. Salah satu tempat suci tersebut adalah Poprok atau Tirta Pecampuan; merupakan titik pertemuan tiga sumber mata air, yaitu air dingin dari Danau Segara Anak, air panas dari sumber mata air panas gunung, dan air belerang. Berdasar fakta tersebut, tempat ini dianggap memiliki energi spiritual yang kuat sehingga mereka akan menginap sebelum melanjutkan pendakian keesokan paginya.

Setibanya di tepian Danau Segara Anak, umat Hindu akan membangun semacam pura sementara dan mendirikan penjor untuk kebutuhan upacara. Sesaji upacara ditaruh di sembilan penjuru mata angin. Dalam proses persiapan upacara ini, akan ada beberapa peristiwa kecil nan ganjil yang menyertai. Misalnya, perubahan ekstrim cuaca di sekitar danau yang semula tenang lalu berubah berkabut dan beriak atau kejadian kesurupan di antara peserta upacara. Saat terjadi kesurupan, maka akan mulai digelar Upacara Melaspas dan Nuhur. Upacara Melaspas dimaksudkan untuk menyucikan tempat upacara dari kekuatan jahat yang datang mengganggu. Sementara Nuhur adalah lantunan yang disenandungkan guna mengundang para dewata penunggu Gunung Rinjani agar mengiringi upacara.

Pelaksanaan Mulang Pekelem biasanya akan didahului dengan pelaksanaan Yadnya Bumi Sudha. Upacara Yadnya Bumi Sudha dimulai dengan gelaran tari-tarian untuk para dewata. Upacara ini dimaksudkan untuk menyeimbangkan jagad alit (dunia manusia) dengan jagad agung. Sejumlah hewan (kerbau, kambing, sapi, dan lainnya) disembelih dan dikorbankan sebagai bentuk persembahan kepada para dewa di sembilan penjuru mata angin.  Serangkaian doa dipanjatkan agar bumi dibersihkan dari pengaruh jahat dan agar keseimbangan alam terjaga. Tidak hanya itu, umat Hindu pun melepaskan hewan ke alam bebas sehingga mereka dapat berkembang biak dan menciptakan keseimbangan alam di Gunung Rinjani. Setelahnya, kandang hewan-hewan tadi pun dibakar sebagai simbol pengembalian segala unsur kehidupan ke alam.

Keesokan harinya, barulah dimulai upacara Mulang Pekelem yang merupakan bentuk lain pengorbanan umat Hindu kepada Tuhan. Pengorbanan ini dilakukan dengan cara melarung atau menenggelamkan benda-benda berharga, seperti emas, perak, tembaga, dan uang logam yang sebelumnya dibungkus kain ke Danau Segara Anak. Logam mulia dipahat dalam berbagai bentuk hewan yang mewakili simbol-simbol harapan tertentu. Lempeng emas yang berbentuk udang melambangkan kesuburan; kura-kura melambangkan dunia; ikan adalah simbol kehidupan; dan unggas adalah simbol alam semesta. Tujuannya adalah agar dewata menganugerahkan hujan, kesuburan, dan keseimbangan alam di tanah Suku Sasak. Upacara lalu ditutup dengan pementasan Tari Topeng agar Bumi dan seluruh isinya bebas dari petaka.

Mulang Pekelem di Danau Segara Anak tidak hanya dihadiri oleh umat Hindu Lombok tetapi juga umat Hindu dari Bali, Jawa, bahkan Kalimantan. Upacara tersebut merupakan sebuah refleksi dari konsep Tri Hilta Karana, yakni suatu ritual pengorbanan atau upacara suci agar alam dibersihkan dari kekuatan jahat sehingga manusia dan alam dapat hidup secara harmonis dan saling menjaga. Selain itu, secara umum upacara ini dapat juga berfungsi sebagai wahana menumbuhkan kesadaran dan menanamkan nilai-nilai spiritual dalam rangka menjaga keharmonisan alam.

Sumber: berbagai sumber

Peresean: Uji Kejantanan Ala Suku Sasak Lombok

Peresean, Sembalun Lombok Timur 
(Foto: lombok photographer)


Peresean adalah salah satu seni tradisinal pertarungan antara dua orang petarung (pepadu) jawara asli lombok. Peresean merupakan simbol kejantanan suku sasak di Pulau Lombok. Para Petarung dilengkapi rotan sebagai pemukul disebut penjalin yang ujungnya dilapisi balutan aspal dan pecahan beling ditumbuk sangat halus dan Ende (perisai0 sebagai pelindung yang terbuat dari  kulit sapi atau kulit kerbau.


Presean atau bertarung dengan rotan adalah budaya dari Suku Sasak yang unik. Pada awalnya Presean hanya dilakukan saat upacara adat yang selalu dilaksanakan pada bulan tujuh (kalender Sasak) untuk meminta hujan. Namun kini Presean kerap dilakukan pada perayaan hari kemerdekaan RI dan menjadi tontonan yang unik dan diminati wisatawan.


Permalink gambar yang terpasang
Peresean di Lombok (Foto: all about lombok)
Presean ini dilakukan oleh dua orang lelaki Sasak yang bersenjatakan tongkat rotan (penjalin) dan memakai perisai sebagai pelindung yang terbuat dari kulit kerbau tebal yang biasa disebut Ende. Pertarungan ini dipimpin oleh dua wasit. Yakni Pakembar Sedi yaitu wasit yang berada di pinggi lapangan dan Pakembar Tengaq, yaitu wasit yang berada di tengah lapangan. Selama pertarungan berlangsung, masing-masing petarung atau pepadu saling menyerang dan menangkis sabetan lawan dengan menggunakan Ende. Petarungan diadakan dengan sistem 5 ronde. Pemenang dalam Presean ditentukan dengan dua cara yaitu ketika kepala atau anggota badan salah satu petarung mengeluarkan darah, maka pertarungan dianggap selesai dan pihak yang menang adalah yang tidak mengeluarkan darah. Kedua, jika petarung sama-sama mampu bertahan selama 5 ronde, maka pemenangnya ditentukan dengan skor tertinggi. Skor didasarkan pada pengamatan pekembar sedi terhadap seluruh jalannya pertarungan.
Uniknya, Presean juga diiringi musik yang disebut gendang (gending) presean. Alat-alat musiknya terdiri dari dua buah gendang, satu buah petuk, satu set rencek, satu buah gong dan satu buah suling. Jenis-jenis gending Presean dibagi menjadi 3 macam, yakni gending rangsang yaitu gending yang dimainkan pada saat Pakembar dengan dibantu pengadol mencari petarung dan lawan tandingnya. Kedua, gending mayuang, yaitu gending yang bertujuan untuk memberi tanda bahwa telah ada dua pepadu yang siap dan sama-sama berani melakukan Presean. Yang ketiga adalah gending beradu yaitu gending yang bertujuan untuk membangkitkan semangat petarung maupun penonton dan dimainkan selama berlangsungnya pertarungan.
Nah, walaupun namanya pertarungan, namun setiap akhir acara, masing-masing petarung harus berpelukan dan tidak menyimpan dendam. Petarung yang terluka akan segera diobati oleh dukun dengan sejenis obat minyak dan ramuan tertentu. Seni ini bertujuan untuk menguji keberanian, ketangkasan dan ketangguhan seorang pepadu dalam pertandingan. Uniknya, para pepadu tidak dipersiapkan sebelumnya karena para petarung diambil dari penonton sendiri ketika acara dimulai. Ada dua cara untuk mendapatkan pepadu atau petarung yakni dengan wasit menunjuk langsung penonton yang hadir atau seorang pepadu yang telah memasuki arena menantang penonton untuk melawannya. Tak heran jika, saat Presean digelar, penonton akan meluber di pinggir arena. Permainan ini selain seru juga menjadi aset budaya Lombok.

Permalink gambar yang terpasang
Pergasingan Hill, Sembalun (Foto: lombok photographer)

Permalink gambar yang terpasang
Peresean vs Gendang Beleq (Foto: lombok photographer)

Dari berbagai sumber

Suku Dhani Potong Jari Ketika Berduka

Suku Dani bermukim di lembah Baliem(138030’– 139030’ BT dan 3400’ – 4200’LS)., Irian Jaya. Lembah ini berada di tengah-tengah pegunungan Jaya Wijaya pada ketinggian 1600 meter di atas permukaan laut. Lembah Baliem memiliki luas sekitar 1200 km2. Suku Dani lebih senang disebut bangsa Parim atau orang Baliem. Suku ini sangat menghormati nenek moyangnya, biasanya dilakukan melalui upacara pesta babi. Setidaknya ada 5.000 Dani tinggal di lembah  dan lain lima puluh ribu lainnya  atau lebih menghuni permukiman curam-sisi sepanjang lembah . Suhunya ringan, curah hujan sedang, dan terdapat satwa liar berbahaya dan penyakit-penyakit langka.

anak-anak suku dhani (Foto: cepi wungkul)


Lembah Baliem (Foto: Berbagi ilmu)

Budaya Potong Jari

Potong Jari (Foto: Greenbirepapua)

Begitu banyak cara untuk menunjukkan kesedihan dan rasa duka cita ditinggalkan anggota keluarga yang meninggal dunia. Butuh waktu lama untuk mengembalikan kembali perasaan sakit kehilangan. Namun berbeda dengan Suku Dani di Papua, mereka mempunyai tradisi yang cukup aneh. Apabila ada salah satu anggota keluarga yang meninggal, tidak hanya dengan menangis, mereka juga memotong jarinya. 

Pemotongan jari ini melambangkan kepedihan dan sakitnya bila kehilangan anggota keluarga yang dicintai. Ungkapan yang begitu mendalam, bahkan harus kehilangan anggota tubuh. Bagi masyarakat pegunungan tengah, keluarga memiliki peranan yang sangat penting. Bagi masyarakat Balim Jayawijaya kebersamaan dalam sebuah keluarga memiliki nilai-nilai tersendiri.

Bukan hanya suku dani saja yang melakukan hal tersebut. Di luar negeri, gang yakuza akan memotong salah satu jari anggotanya bila mereka gagal menjalankan misi.  


Mengapa harus memotong jari? 


Bagi Suku Dani, jari bisa diartikan sebagai simbol kerukunan, kebersatuan, dan kekuatan dalam diri manusia maupun sebuah keluarga. Walaupun dalam penamaan jari yang ada di tangan manusia hanya menyebutkan satu perwakilan keluarga yaitu ibu jari. Akan tetapi jika dicermati perbedaan setiap bentuk dan panjang jari memiliki sebuah kesatuan dan kekuatan kebersamaan untuk meringankan semua beban pekerjaan manusia. Jari saling bekerjasama membangun sebuah kekuatan sehingga tangan kita bisa berfungsi dengan sempurna. Kehilangan salah satu ruasnya saja, bisa mengakibatkan tidak maksimalnya tangan kita bekerja. Jadi jika salah satu bagiannya menghilang, maka hilanglah komponen kebersamaan dan berkuranglah kekuatan.


Alasan lainya adalah "Wene opakima dapulik welaikarek mekehasik" atau pedoman dasar hidup bersama dalam satu keluarga, satu marga, satu honai (rumah), satu suku, satu leluhur, satu bahasa, satu sejarah/asal-muasal, dan sebagainya. Kebersamaan sangatlah penting bagi masyarakat pegunungan tengah Papua. Kesedihan mendalam dan luka hati orang yang ditinggal mati anggota keluarga, baru akan sembuh jika luka di jari sudah sembuh dan tidak terasa sakit lagi. Mungkin karena itulah masyarakat pegunungan Papua memotong jari saat ada keluarga yang meninggal dunia.


Tradisi Potong Jari di Papua sendiri dilakukan dengan berbagai banyak cara, mulai dari menggunakan benda tajam seperti pisau, kapak atau parang. Ada juga yang melakukannya dengan menggigit ruas jarinya hingga putus, mengikatnya dengan seutas tali sehingga aliran darahnya terhenti dan ruas jari menjadi mati, kemudian baru dilakukan pemotongan jari.


Selain tradisi pemotongan jari, di Papua juga ada tradisi yang dilakukan dalam upacara berkabung. Tradisi tersebut adalah tradisi mandi lumpur. Mandi lumpur dilakukan oleh anggota atau kelompok dalam jangka waktu tertentu. Mandi lumpur mempunyai arti bahwa setiap orang yang meninggal dunia telah kembali ke alam. Manusia berawal dari tanah dan kembali ke tanah.


dari berbagai sumber 

Legenda Si Pahit Lidah dan Peninggalannya

Foto: henrykomik

Ketika saya kecil, saya selalu diceritakan oleh oleh ibu tentang kisah Si Pahit Lidah. Ibu sering menyebutnya Si Lidah berbisa. Saking seringnya ibu menceritakannya, saya sangat hafal dengan setiap bagian ceritanya. Bagian kisah yang paling saya sukai adalah ketika ibu menceritakan Si Dirut, anak si pahit lidah yang memancing di sungai ketika bulan purnama. Ia selalu mendapat banyak ikan karena di bantu oleh ibunya yang merupakan Bidadari kayangan. Bagian lain yang paling saya sukai adalah ketika si Pahit lidah keheranan melihat jemuran kerak nasi. "Bagaimanalah orang-orang ini bisa menganyam nasi?" ucap si Pahit Lidah. Saya juga sangat menyukai ketika ibu menyanyikan lagu Dirut yang mengisahkan si Pahit Lidah yang berjanji kepada anaknya Dirut untuk membawa pulang ibunya. Beginilah cerita lengkapnya.

Si Pahit Lidah ini merupakan kisah legenda dari Sumatera Selatan, Tepatnya dari kabupaten Ogan Komering Ilir. berkisah tentang seorang anak muda bernama Pojang Serunting Sakti, bergelar Pojang Si Pahit Lidah. Pemuda nan indah permai itu turun dari langit sorga loka. Serunting terus menuruni bukit Si Guntang-Guntang. Ia diangkat anak oleh seorang raksasa yang bernama Pojang Panjang yang beristeri Putri Tenggang dari Pagaruyung.

Beberapa waktu kemudian Serunting menikah dengan seorang gadis adik Aria Tabing. Namun pernikahan ini tidak lama, karena terjadi perselisihan antara Serunting dengan Aria Tabing. Penyebabnya adalah karena banyak tumbuh cendawan yang terbuat dari logam mulia emas di lahan Serunting. Aria Tabing memindahkan batas lahan tersebut yang terbuat dari sebatang pohon besar roboh, tapi usahanya itu sia-sia. Cendawan emas tetap tumbuh didaerah milik Serunting.

Sebagai adik, isteri Serunting terpaksa membela kakaknya. Ia membocorkan rahasia kesaktian suaminya .... Ternyata rahasianya ada di sebatang pohon ilalang tunggal yang tumbuh dibelakang rumah Serunting. Begitu ditusuk duri, daun ilalang tersebut oleh Aria Tabing, lemahlah Serunting. Serunting berhasil dikalahkan dan diusir dari daerah itu. 

Dalam pelariannya Serunting berjumpa dengan aria sakti yang berasal dari Majapahit di bukit Si Guntang-Guntang. Lidah Serunting diusap dengan cemara sakti milik Aria tersebut. Sejak itulah semua ucapan Serunting segera terwujud.

Pada suatu hari Serunting bertanya kepada seorang gadis : "Dik, tahukah kiranya adik jalan ke tepian ?" Tapi jawaban yang diterimanya tidak memuaskan Serunting karena bunyinya seakan mengolok-olok :" Jalan ketepian ada dibawah telapak kaki awak". serunting mengutuk gadis itu jadi batu dan terjadilah betul. Sekarang batu tersebut disebut Batu Berkalung. Sejak itu terkenallah Serunting dengan gelar Si Pahit Lidah. Disepanjang perjalanannya Serunting banyak mengutuk orang menjadi batu.

Akhirnya Serunting berhenti mencari Aria Tabing, karena ia berjumpa dengan seorang bidadari cantik yang sedang mandi. Kain sarung bidadari itu dicuri Serunting, sehingga bidadari tidak bisa kembali ke langit. Akhirnya mereka menikah dan dikaruniai seorang anak. 

Diam-diam isteri Serunting telah menemukan kain sarung yang disembunyikan suaminya. Ia sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengenakannya kembali agar bisa terbang ke langit. 

Tibalah saatnya ketika anaknya besar dan harus dicukur rambutnya. Acara cukur rambut itu disertai dengan pesta meriah yang mengundang banyak tamu bangsawan dari segala penjuru. Para tamu yang minum tuak itu mulai mabuk dan menuntut diadakan tarian oleh isteri Serunting. "Kami ingin melihat bidadari menari"! Seru mereka. Maka naik panggunglah isteri Serunting. Ia menari dengan mengenakan kain sarungnya yang sakti. Kian lama kian tinggi ia menari, hingga sampai ke angkasa.

Serunting bicara pada anaknya : "Aduhai nandaku, ibundamu terbang ke langit." Maka karena ucapan Si Pahit Lidah senantiasa terjadi, terbang kelangitlah isterinya untuk tidak kembali lagi .....

Ketika itu anaknya bertanya : " Ayahanda, mana ibu ?" 
Jawab Serunting :" Berhentilah engkau menangis, ayahanda akan segera pergi mendapatkan bundamu."

Setelah Serunting berkata begitu, maka datanglah seorang sakti yang bermata empat. Mata empat memiliki dua mata lagi di kepala bagian belakangnya yang ditutupi rambutnya.  Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat adalah dua jawara gagah berani yang menjadi legenda terkenal bagi masyarakat Banding Agung. Mereka amat disegani lawan-lawannya. Baik si Pahit Lidah maupun si Mata Empat, keduanya merasa paling hebat di antara keduanya.


”Ha..ha..ha..akulah yang paling hebat sejagat raya ini, tak ada yang bisa menandingiku”, ucap si mata empat di depan umum ketika mempertunjukkan kehebatannya. ”Hei si Mata Empat..sombong sekali kau, apa belum tahu kehebatanku?” teriak si Pahit Lidah kepada si Mata Empat. Si Mata Empat pun menjadi geram dan rasanya ingin segera menghajar si Pahit Lidah. Namun niatnya tersebut diurungkan karena kalau berkelahi secara langsung tentu dia akan kalah dengan kutukan lidahnya yang pahit itu

”Baiklah, sekarang saya beri kelonggaran untukmu yang telah lancang kepadaku Pahit Lidah, saya akan membuktikan seberapa hebat kesaktianmu. lima hari dari sekarang di dekat Danau Ranau setelah matahari terbenam. Bagaimana apakah kau sanggup?” tanya si Mata Empat menantang si Pahit Lidah.

Danau Ranau, Tempat bertarung Si Pahit Lidah dengan Si Mata Empat
(Foto: panduanwisata)

”Baiklah..dengan senang hati saya terima tantanganmu Mata Empat, lagipula aku sudah tak sabar ingin menghajar orang sombong macam kau!!” jawab si Pahit Lidah dengan lantang.

Akhirnya, karena ingin membuktikan siapa yang benar-benar lebih hebat di antara mereka berdua, mereka sepakat untuk bertemu dan mengadu kekuatan masing-masing.

Maka tibalah pada hari yang sangat menentukan itu. Mata Empat menggunakan permainan licik yang hanya menguntungkan dirinya sendiri. Caranya, secara bergiliran keduanya harus tidur menelungkup di bawah rumpun bunga aren. Lalu, bunga aren di atas akan dipotong oleh salah satu di antara mereka. Siapa bisa menghindar dari bunga dan buah aren yang lebat dan berat itu, dialah yang akan disebut jawara sakti. Setiap orang diberi kesempatan memotong tiga kali bila buah yang di jatuhkan belum mengenai musuh. Si Pahit Lidah tidak mengetahui kalau Mata Empat telah berbuat licik terhadapnya. Tapi si Pahit Lidah menerima saja tantangan Mata Empat tersebut.

Lalu keduanya melakukan undian dengan aturan yang telah mereka sepakati. Akhirnya si Mata Empat mendapat giliran pertama. Sesuai namanya, si Mata Empat juga memiliki dua mata lain, yakni di belakang kepalanya.

Dengan secepat kilat si Pahit Lidah lalu memanjat pohon aren yang ada di tepi danau tersebut.

”Hei Mata Empat yang sombong terimalah ini, selamat tinggal untuk selama-lamanya.” ucap Pahit Lidah kepada Mata Empat.

Dengan tenangnya si Mata Empat menelungkup di bawah pohon. Cring…byar…buah aren berhasil di potong dan di jatuhkan oleh si Pahit Lidah.

Tentu saja si Mata Empat bisa melihat arah jatuhnya buah aren tersebut. mata di kepala mata empat bisa melihat ketika bunga aren jatuh meluncur ke ke arah Mata Empat. Dengan mudahnya si Mata Empat bisa menghindar dari runtuhan buah aren tersebut.

”Ha..ha..ha..ha..apakah hanya itu saja kemampuanmu hai pahit lidah” dengan sombong Mata empat mengejek si Pahit Lidah yang ada di atas pohon.

”Kurang ajar, ternyata kau belum mati juga” dengan kesal si Pahit Lidah memotong buah aren yang lebih besar. Tapi si Mata Empat dapat menghindar lagi dari jatuhan buah aren tersebut.

”Wahai Pahit Lidah saya kasih kesempatan sekali lagi untuk menunjukkan kemampuanmu” ujar Mata Empat dengan sombongnya. Dengan perasaan hampir putus asa, Pahit Lidah memotong buah aren yang lebh besar dari yang kedua. Tapi dengan kemampuan yang dimilikinya, Mata Empat bisa menghindar untuk ketiga kalinya dari jatuhan buah aren tersebut.

Dengan perasaan kecewa si Pahit Lidah turun dari pohon aren tersebut. Kini giliran si Pahit Lidah untuk manjat pohon aren. Dengan secepat kilat juga si Mata Empat memanjat dan si Pahit Lidah sudah menelungkupkan badannya di bawah rumpun pohon itu.

”Pahit lidah apakah kau sudah siap dengan kematianmu?”tanya si Mata Empat kepada si Pahit Lidah.

”Jangan banyak oceh kau. Cepat potong buahnya!”jawab Pahit Lidah.

Si Mata Empat pun memotong buah aren tersebut. Clazzz…gugusan buah are itu meluncur deras ke bawah.

Si pahit lidah tak bisa mengetahui hal itu. Badannya tetap berada persis di bawah luncuran itu. Ia tak menghindar.

”Akhhhh…” Pahit Lidah berteriak kesakitan sejadi-jadinya. Buah aren yang besar dan berat tersebut mengenai tubuh si Pahit Lidah. Tubuhnya bersimbah darah dan ia tewas seketika secara mengenaskan.

”Ha..ha..ha..ternyata kamu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kesaktianku.” Si Mata Empat senang, dan merasa puas. Ia bisa membuktikan pada semua orang, dirinyalah yang lebih sakti dari si Pahit Lidah.

Namun rasa ingin tahunya muncul, mengapa lawannya itu mendapat julukan si Pahit Lidah? Benarkah lidahnya memang pahit? Lalu karena penasaran, ia cucukkan jarinya ke dalam mulut si pahit lidah yang sudah mati itu. Setelah itu, dicecapnya jarinya sendiri yang sudah terkena liur di Pahit Lidah.

”Benar, rasanya pahit sekali. Rasanya lebih pahit dari akar brotoali.”

Rupanya itu racun yang mematikan. Si Mata Empat pun mengerang-erang kesakitan memegangi tenggorokannya. Tapi apa mau dikata. Racun tersebut telah menjalar ke seluruh tubuhnya. Dan seketika itu juga tubuhnya membiru. Maka si Mata Empat pun juga tewas di tempat yang sama. Akibat terlalu sombong dan angkuh. Merasa dirinya paling hebat di dunia ini, padahal masih ada yang lebih hebat sejagat raya ini yaitu Allah SWT. Kedua jawara ini lalu dimakamkan oleh penduduk setempat di tepi Danau Ranau yang menjadi saksi sejarah pertarungan antara si Pahit Lidah dan si Mata Empat.

Jejak Peninggalan-Peninggalan Si Pahit Lidah

1.Batu Macan

Konon batu ini sudah ada sejak abad ke 14 terdapat di Desa Pagar Alam Kecamatan Pulau Pinang Kabupaten Lahat. Penduduk setempat meyakini batu macan adalah simbol  sebagai wujud nyata paraturan adat (perdat) yang harus dipatuhi. Menurut cerita penduduk setempat Dahulu kala ada seekor macan yang kerap kali mengganggu masyarakat desa di empat wilayah (Pagar Gunung, Gumay Ulu, Gumay Lembah, dan daerah Gumay Talang).


Keganasan macan yang semakin merajalela kepada penduduk, membuat Si Pahit Lidah memperingati macan untuk tidak meneruskan kelakuannya, namun sampai tiga kali teguran tidak pernah dipatuhinya dan macan terus saja mengganggu penduduk.

Ketika Si Pahit Lidah sedang bersantai dan berjemur di batu penarakan sumur tinggi, dari jauh dilihatnya seorang wanita sedang menjemur padi sambil menggendong anaknya, dan pada saat yang sama datang seekor macan dari arah belakang wanita secara mengendap-endap untuk menerkam wanita bersama anak yang ada di gendongannya.

Melihat itu, kembali Si Pahit Lidah memperingati macan, namun sayangnya teguran itu tidak juga membatalkan niatnya untuk menerkam wanita tersebut, sampai akhirnya Si Pahit Lidah berucap “Aii, dasar batu kau nii!” dan tiba-tiba macan tersebut berubah menjadi batu.

Anehnya, bukan hanya macan yang menerima kutukkan dari Si Pahit Lidah, wanita berserta anak yang sedang digendongnya turut menjadi batu. Setelah diselidiki, ternyata wanita tersebut adalah wanita pezinah dan anak yang sedang digendongnya adalah anak hasil perzinahan.

Dari kisah itu, penduduk setempat mempercayai, apabila seseorang diketahui berzinah, maka terdapat hal-hal yang harus dilakukan oleh si pelaku yakni menyembelih kambing sebagai basoh rumeh (pembersih rumah. red), dan apabila si wanita mengandung dan melahirkan, maka harus menyembelih kerbau sebagai basoh marge (pembersih lingkungan. red). Hanya saja, sebelum kedua hewan tersebut disembelih maka pelaku harus dikucilkan dan tidak boleh bergaul seperti diungsi kan di daerah lain atau di pegunungan, dan akan dapat diterima di masyarakat kembali setelah memenuhi persyaratan-persyaratan tersebut.

2.Goa Putri

Goa Putri (Foto: fotografer.net)

Menurut legenda yang dipercaya sampai sekarang, dulu tinggallah seorang Putri Balian bersama keluarganya. Suatu saat, sang Putri mandi di muara Sungai Semuhun (sungai yang mengalir di dalam goa, bermuara di sungai Ogan), persis pada pertemuan sungai itu dengan sungai Ogan. 

Pada suatu saat, kebetulan seorang pengembara sakti lewat, namanya Serunting Sakti atau yang lebih dikenal dengan nama Si Pahit Lidah. Melihat Sang Putri di sungai hendak mandi, Si Pahit Lidah mencoba menegur. Namun tidak dipedulikan sama sekali oleh Sang Putri. Sampai beberapa kali Si Pahit Lidah menegur Sang Putri, tetap saja tidak dihiraukan oleh Sang Putri. "Sombong benar si Putri ini, diam seperti batu saja...," kata Si Pahit Lidah menggumam. Gumaman itu langsung mengenai Sang Putri, sehingga serta merta Sang Putri berubah menjadi batu. Itulah batu yang terdapat di Sungai Ogan, seperti yang digambarkan pada awal tulisan ini.

Si Pahit Lidah lalu meneruskan perjalanannya. Tak disangka sampailah sang pengembara di depan lokasi yang sekarang menjadi goa. "Katanya ini desa, tapi tidak kelihatan orangnya, seperti goa batu saja,' kata Si Pahit Lidah bergumam. Dan jadilah tempat itu sebagai goa batu. Itu legenda terjadinya Goa Putri.
Memasuki Goa Putri, banyak keindahan alam ciptaan Tuhan yang menakjubkan dapat Anda saksikan. Bagaikan perunggalan kerajaan pada zaman dahulu yang telah runtuh namun masih utuh. Dinding goa yang dipenuhi stalagmit dan stalagtit menambah indahnya goa tersebut. Pada pintu masuk dapat Anda lihat patung seekor singa yang seolah-olah sedang orang di sana, jika Anda mencuci muka dengan air tersebut bisa menjadi awet muda, kulit muka tidak kelihatan tua.

3. Danau Ranau

Danau ranau berjarak kira2 342 km dari kota palembang, 130 km dari kota Baturaja. Konon kabarnya hidup seorang yang sangat sakti yaitu Si Pahit Lidah, karena saking lidahnya pahit dapat mengkutuk orang, binatang, atau benda apapun menjadi batu. Hal ini dipercaya karena adanya situs peninggalan zaman dahulu kala yaitu BATU KEBAYAN (candi sepasang pengantin) yang puing-puingnya masih tersisa di dekat Desa Jepara, kecamatan Buay Pematang Ribu Ranau Tengah, kabupaten OKU Selatan, Sumatera Selatan. Dan konon dipercaya banyaknya situs (arca atau patung) di daerah Ranau.

Batu Kabayan (foto: Dehitam putih)

4. Pulau Marisa 

Tepat di tengah danau terdapat pulau yang bernama Pulau Marisa. Di sana terdapat sumber air panas yang sering digunakan para penduduk setempat ataupun para wisatawan yang datang ke pulau tersebut, terdapat air terjun, dan penginapan. Danau ini juga menjadi objek wisata andalan dari Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan. Walaupun termasuk danau kawah, Danau Ranau tidaklah persis di puncak Gunung Seminung. Inilah sebabnya danau ini disebut sebagai salah satu danau paling unik di Indonesia.

www.belantaraindonesia.org
Pulau marisa (Belantaraindonesia)


4. Patung Gajah

Patung Gajah (Foto: sejarah basemah)

Lokasi situs megalitik itu letaknya di alam bumi Pasemah Lahat dan Pagar Alam, sekitar 500-an kilometer dari Palembang, di dataran tinggi antara 750 meter-1.000 meter di kaki Gunung Dempo dari Pegunungan Bukit Barisan dan daerah aliran hulu Sungai Musi dan anak-anak sungainya.

Ahli arkeologi Belanda sejak EP Tombrink (1827), Ulmann (1850), LC Westernenk (1921), Th van der Hoop (1932) dan lainnya sejak dulu berusaha memecahkan misteri ilmiah keberadaan kompleks situs megalitik yang penuh serakan peninggalan arkeologi. Sebetulnya masih banyak peninggalan dari legenda si pahit lidah, seperti arca,lesung,subik,batu sirmol dan lain - lain. Tapi saya kutip yang terkenal di masyarakat.

Bagi yang ingin mendengarkan lagu Dirut, silahkan lihat video lagu berikut: 

Lagu Dirut dengan Landscape Gunung Dempo

Atau bisa download mp3 nya disini

Dari Berbagai Sumber